Konsep seni pertunjukan menurut para ahli:http://pardonsimbolon.blogspot.com/2010/02/seni-perunjukan-indonesia-seni.html
1.
Menurut Koentjaraningrat,
kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan dan merupakan kebutuhan manusia
yang universal yang tidak pernah berdiri sendiri dan tidak terlepas dari
masyarakat. Ruang lingkup kesenian adalah sebagai berikut,
a. Seni rupa yang dibagi
atas :
- seni bangunan
- seni patung
- seni relief
- seni lukis / gambar
- seni rias
- seni kerajianan mencakup seni tari
- seni olahraga
b. seni suara mencakup
- seni vokal
- seni instrumental
- seni sastra yang meliputi puisi dan prosa
3. Seni drama merupakan gabungan dari seni suara dan seni rupa meliputi
- seni pendalangan
- seni film
- seni bangunan
- seni patung
- seni relief
- seni lukis / gambar
- seni rias
- seni kerajianan mencakup seni tari
- seni olahraga
b. seni suara mencakup
- seni vokal
- seni instrumental
- seni sastra yang meliputi puisi dan prosa
3. Seni drama merupakan gabungan dari seni suara dan seni rupa meliputi
- seni pendalangan
- seni film
2.
Seni Menurut Aristoteleshttp://www.dosenpendidikan.com/101-pengertian-dan-macam-macam-seni-menurut-para-ahli/
Seni adalah suatu bentuk pengungkapan dan penampilan tidak pernah
menyimpang dari kenyataan dan seni yang meniru alam.
Sejarah perkembangan seni pertunjukan Indonesia
1. Zaman
Primitif
Berdasarkan
hasil penelitian para pakar seni bahwa beberapa jenis tari di
indonesia yang tergolong seni primitif adalah Gordang Sambilan dari
Batak, Topeng Hudog dari Kalimantan Timur, dari Bali
misalnya tari barong seperti Barong Brutuk, Barong
Ket, Rejang tenganan dan berbagai Tari Sanghyang. Dari Jawa
adalah tari Kuda Kepang atau Jaran Kepan (apabila
penarinya tidak sadarkan diri akan memakan beling (pecahan kaca).
· Ciri–ciri
kesenian pada zaman primitif, antara lain :
a. Gerakan
sangat sederhana dan lebih mengutamakan improvisasi
b. Belum
ada iringan gamelan, untuk iringan tari dengan sorak sorai, nyanyian dan
tepukan tangan
c. Desain
lantai lebih banyak berbentuk lingkaran
d. Di
beberapa daerah sebagai pertunjukan jalanan (Jawa dan Bali)
e. Dilakukan
oleh orang – orang pilihan, (contohnya : di Bali)
f. Unsur
tak sadarkan diri (trance) dan magis sangat kuat .
2. Zaman Masyarakat Feodal
Zaman
masyarakat feodal dibagi menjadi Zaman Indonesia Hindu, Zaman Indonesia
Islam, Zaman Invasi bangsa Barat, dan Zaman Pergerakan Indonesia.Pada Zaman
ini pertumbuhan Kebudayaan nampak bertambah baik, walaupun hasil – hasil
kebudayaan tersebut untuk kepentingan golongan tertentu dan kepentingan
keagamaan. Di Samping itu corak masyarakat dari berbagai suku pada masing –
masing zaman itu juga sangat mempengaruhi perkembangan Seni Pertunjukan (Tari)
di Indonesia.
a. Zaman
Indonesia Hindu
Zaman
ini dimulai sejak datangnya pedagang–pedagang india yang kemudian berbaur dan
kawin dengan penduduk asli Indonesia dan melahirkan kebudayaan Indonesia Hindu
yang didalamnya masih terpelihara dengan baik unsur – unsur kebudayaan
Indonesia asli.
Satu
hal yang sangat penting pada zaman itu adalah Kehidupan Kerohanian dengan
ditemukannya peninggalan puluhan candi-candi sebagai monumen keagamaan. Salah
satu seni pertunjukan yang penting pada zaman ini adalah tari. Tari menjadi
salah satu bagian yang penting dalam upacara keagamaan yang dapat dilihat pada
relief–relief candi yang menggambarkan penari–penari yang diiringi bermacam-macam
instrumen musik.
Selain
tari khusus keagamaan, pada zaman ini ada pula tari yang difungsikan untuk
menghibur, yaitu ronggeng. Tari Ronggeng digambarkan sebagai penari wanita,
terpahat pada candi Dieng, Borobudur dan Prambanan (abad VIII). Dalam perkembangan
selanjutnya ronggeng dipelihara oleh para bangsawan Jawa makin diperhalus
hingga menjelma menjadi tari-tarian yang bernilai artistik, seperti Gambyong,
Golek dan Bondan. Sedangkan Ronggeng yang berkembang di kalangan rakyat jelata
tetap bernama ronggeng, atau dengan sebutan lain Ledek atau tledek. Tari
Ronggeng yang menari bersama penari laki-laki yang datang dari penonton di Jawa
Tengah disebut Tayub.
Pada
Zaman ini banyak sastrawan yang menggubah satra Mahabrata dan Ramayana sehingga
kedua epos tersebut telah menjadi milik Indonesia. Kedua epos ini sangat
penting bagi perkembangan Seni Pertunjukan di Indonesia khususnya Bali dan Jawa
yang selalu menggunakan kedua epos ini kedalam bentuk seni pertunjukan. Begitu
pula dengan alat musik iringan seperti gendang, gambang, dan suling yang telah
mengiringi tari-tarian. Selain itu berkembang pula Dramatari Wayang Wwang
(Dramatari Topeng) yang memakai lakon cerita Mahabrata dan Ramayana. Pada
umumnya penari berasal dari keluarga bangsawan dalam tembok istana.
b. Zaman
Indonesia Islam
Zaman
ini diawali dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatra Utara pada
akhir abad XIII dan kerajaan Demak, Pajang, dan Mataram di Jawa, pertumbuhan
seni pertunjukan tidak terganggu. Bahkan seringkali seni tari dan gamelan
dipakai alat daya tarik untuk mengumpulkan orang-orang agar mau mendengarkan
khotba-khotbah tentang ajaran agama Islam. Perkembangan seni tari di Jawa
Tengah pada Zaman ini nampak lebih pesat dalam masa pemerintahan Sultan agung
sebagai raja Mataram Islam.
Jenis
tarian yang muncul pada zaman ini (Jawa) adalah tari Serimpi dan Bedhaya
sebagai tarian wanita halus, tari Beksan atau wireng merupakan komposisi tari
untuk laki-laki yang menggambarkan ketangkasan berperang. Salah satu tarian
sakral yang dipelihara baik sampai sekarang dan dipentaskan pada waktu tertentu
saja serta diwarisi oleh raja-raja Sultan Agung adalah Tari Bedhaya Ketawang.
Tari
Piring di ateh Kaco, Luambek, dan Galombang, wayang Kulit sasak di lombok yang
membawakan cerita serat menak peristiwa-peristiwa di Arab sebelum tampilnya
Nabi Besar Muhamad SAW.
c. Zaman
Invasi Bangsa Barat
Pada
zaman ini kerajaan-kerajaan tunduk kepada Belanda. Pada saat itu kerajaan
Mataram dipecah menjadi dua yaitu kerajaan Jogjakarta dan Surakarta. Dari
perpecahan itu, mengakibatkan adanya perpecahan tari Jawa menjadi gaya
Jogjakarta dan gaya Surakarta. Baik gaya Jogjakarta maupun Surakarta mengalami
kemajuan yang amat pesat sejak pertengahan abad XVIII dan abad XIX, yang
kemudian melahirkan dua macam dramatari, yaitu wayang Wong dan Langendriya.
Wayang Wong adalah dramatari dengan dialog prosa bahasa Jawa yang membawakan
cerita Mahabrata dan Ramayana. Sedangkan Langendriya adalah dramatari dengan
dialog nyanyian bahasa Jawa dan memakai cerita Damarwulan.
Pada
zaman ini, Indonesia dijejali dengan berbagai jenis tari klasik, pada umumnya
berasal dari Jawa dan Bali karena mendapatkan pengayoman yang baik dari istana,
bahkan para senimannya dihidupi oleh para raja untuk memelihara dan
mengembangkannya.
Masa
pengaruh barat ditandainya dengan masuknya musik nasional, dan sandiwara. Dari
Cina berupa alat musik cina (gambang krromong) dan tarian yang disebut
Barongsai dan Rebana (alat musik) dari Arab.
d. Zaman
Pergerakan Nasional (1908-1945)
Pada
Zaman ini mempunyai akibat yang baik terhadap perkembangan seni tari. Hal ini
terbukti dari berbagai tari yang hanya dinikmati kaum bangsawan di Istana
kemudian disebarluaskan ke kalangan masyarakat luas. Demikian pula sebaliknya,
tari-tarian rakyat mendapat perhatian yang layak dari kalangan istana.
Seni
Pertunjukan di Bali mengalami perkembangan pesat sejak masa pemerintahan Dalem
waturenggong hingga pemerintahan raja-raja sebelumnya abad ke XX. Dramatari
yang muncul dan berkembang di Bali antara lai : Gambuh, Topeng (topeng Pajegan
dan topeng Panca), Arja, Wayang Wong, Wayang Kulit. Namun sebelumnya telah
muncul tari untuk upacara yakni, tari Baris (Bebarisan), dan Rejang. Demikian
pula muncul berbagai tema tari legong. Perkembangan tari Bali kemudian
berlanjut dengan munculnya tari Kekebyaran dengan iringan gong kebyar yang
mula-mula muncul di Bali Utara.
· Ciri-ciri
tarian pada zaman feodal, sebgai berikut :
-
Gerak tari sudah mempunyai standar tertentu/sudah baku
-
terikat pada tradisi
-
Ada ikatan kaula gusti(ada aturan tutur kata dalam dramatari)
-
Mengutamakan keindahan gerak (gerak imitatif dari manusia, alam, binatang)
-
Mempunyai fungsi untuk tontonan/hiburan
3. Zaman Masyarakat Modern
Zaman
ini terjadi setelah kemerdekaan yang ditandai dengan bermunculan berbagai jenis
tari kreasi dan kemudian lambat laun beranjak kebentuk kontemporer. Secara
garis besar seni pertunjukan berkembang pesat karena seni pertunjukan menjadi
cabang ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.
Dalam
pendidikan unsur-unsur barat mulai masuk dalam tari dengan menerapkan berbagai
komposisi dan level gerak, diasuh oleh para seniman-seniman yang berpendidikan
seni.
Selain
berbagai tema legong yang telah berkembang di Bali Selatan, di Bali Utara
berkembang seni Kekebyaran yang dipelopori oleh I wayan wandres dengan tari
Kebyar Legong yang kemudian disempurnakan oleh Gede Manik menjadi teri
Trunajaya. Di Bali selatan Muncul I Ketut Maria yang akrab di panggil I Mario,
menciptakan tari kebyar duduk, kemudian tarian ini berkembang menjadi tari
terompong, dan ciptaan lainya tema percintaan adalah tari OIleg Tambulilingan.
Selain itu, muncul seniman I Nyoman Kaler dari Denpasar yang menciptakan
berbagai tari kreasi bebancihan yang amat populer seperti Panji Semirang,
Margapati, wiranata, dan Demang Miring. Sedangkan karakter perempuan seperti
tari Pengaksama, Kupu-kupu Tarum, Candra Metu, Puspawarna, dan Bayan Nginte.
· Ciri-ciri
kesenian pada zaman modern, antara lain :
-
Tidak terikat pada pola-pola yang telah ada
-
menekankan kebebasan pribadi
-
bersifat sementara
4. Perkembangan Seni
Pertunjukan di Era Globalisasi
Seni
pertunjukan semakin berkemabang dengan sangat baik. Di indonesia dan
juga di negara-negara berkembang lainnya, fungsi Seni Pertunjukan sebagai
presentasi estetis yang tumbuh subur adalah seni pertunjukan yang disajikan
kepada para wisatawan.
Seorang
antropolo (J. Maquet) memberikan sebuah konsep seni pertunjukan wisata by
metamorphosis yaitu : sebagai seni yang telah mengalami metamorfose
ini sangat berbeda dengan seni yang diciptakan untuk kepentingan masyarakat itu
sendiri (art by destination). Seni Metamorfose disebut juga seni
alkuturasi (art by alccuturation), karena seni pertunjukan
tersebut dalam penggarapannya telah mengalami proses alkuturasi. Alkuturasi ini
terjadi antara selera estetis seniman setempat dengan para wisatawan. Seni
alkuturasi ini disebut “Pseudo traditional art” karena bentuknya
masih mengacu pada bentuk-bentuk serta kaidah-kaidah tradisional, tetapi nilai
tradisionalnya yang biasanya sakral, magis dan simbolis telah dikesampingkan
atau dibuat semu.
Contoh
:Barong and Kris Dance. Para penari keris yang menusuk-nusuk keris
pada dada hanyalah pura-pura (mereka telah berlatih terlebih dahulu), begitu juga
dengan kain putih yang dibawa Rangda tidak memiliki kekuatan magis sedikitpun,
semua yang terjadi hanya semu belaka karena yang sesungguhnya dilakukan di Pura
untuk upacara tertentu.
Bentuk-bentuk
seni pertunjukan Jawa tradisonal yang sudah tidak berfungsi ritual lagi,
misalnya Wayang Wong, Kethoprak dan sebagainya. Di Bali beberapa tarian upacara
dialih fungsikan untuk seni pertunjukan wisatawan seperti pendet (yang telah di
kemas ulang), Taian Cak atau Kecak, berbagai tari Sanghyang yang fungsinya untuk
mengusir wabah penyakit telah dipentaskan untuk menghibur para wisatawan namun
kandungan sakral, magis, dan simbolis dari aslinya telah dihilangkan (imitation).
· Ciri-ciri
seni pertunjukan yang dikemas untuk wisatawan :
1. Tiruan
dari aslinya
3. Dikesampingkan
nilai-nilai sakral, magis dan simbolisnya
4. Penuh
variasi
5. Disajikan
dengan menarik, dan
6. Murah
harganya menurut wisatawan.
Dilihat
dari ciri-ciri tersebut dan dipadukan dengan konsep seni wisata, teori itu akan
berbunyi : “Seni wisata adalah seni yang dikemas khusus untuk wisatawan, yang
memiliki ciri-ciri tiruan dari aslinya, dikemas padat dan singkat,
dikesampingkan nilai primernya, penuh variasi, menarik serta murah harganya.






0 komentar:
Posting Komentar